Mimpi Melihat Matahari Dalam Gitmo

Melihat matahari dan merasakan kehangatan sinarnya mungkin bagi sebagian orang adalah hal biasa. Namun bagi Yasin Ismail, Tahanan Guantanamo No 522, itu adalah hal yang paling ia inginkan.

“Yasin sudah tidak  keluar melihat udara segar selama sebulan,” ujar David Remes, direktur legal grup hak asasi manusia Appeal for Justice sekaligus pengacaranya seperti yang dikutip oleh Chritian Science Monitor (23/02)

Yasin, pria asal Yaman itu terkunci dari peradaban luar selama berminggu-minggu dan menghabiskan 22 jam sehari sendiri dalam sel tanpa jendela di fasilitas keamanan-tinggi penjara yang juga  dikenal dengan sebutan Gitmo.

Bulan Januari tangggal 7, Yasin yang putus asa meminta untuk dipindahkan dari ruangnya ke ruang lain yang dimasuki cahaya matahari. Namun  sang penjaga balik berkata, “Kamu tidak diijinkan melihat matahari,”

Permintaan melihat matahari tidak hanya ditolak sederhana, para tahanan pun diberi hukuman dan tindak kekerasan gara-gara melontarkan permintaan tersebut.

Ketika penjaga menolak memindahkan Yasin ke sell memiliki akses sinar matahari, Yasin dan penjaga sempat berdebat sesaat dan beberapa detik Yasin memindahkan sepatunya dan melemparnya ke dinding pembatas. Penjaga lantas menuduh Yasin menyerang mereka dan meninggalkannya dalam ruang tertutup rapat tanpa jendela dari siang hingga malam.

Ia terbangun karena suara gaduh peralatan satu tim penjaga yang memasuki sel, menggguncangnya dan memukulnya secara brutal.  Satu penjaga bahkan mengencingi kepala Yasin.

Mereka mplaster hidung dan mulut saya hingga, membuat saya melihat kematian baru kemudian membiarkan saya bernafas kembali,” ujar Yasin menuturkan kepada pengacaranya.

Mereka memukul tulang rusuk saya hingga saya dapat rasakan otak saya melayang,”

Yasin adalah satu dari 242 tahanan yang masih dipegang oleh AS dalam kam detensi tersohor yang dikutuk secara global tersebut.

Kasus Yasin merupakan salah satu sorotan dari karakter brutal, keji, penuh hukuman dalam interaksi sehari-hari antara penjaga dan tahanan di dalam kamp penjara kontroversial tersebut.

Banyak petugas hukum dan kelompok hak asasi manusia berbicara menentang kondisi kian memburuk perlakuan terhadap tahanan, seperti halnya Yasin yang tak pernah melihat matahari.

Reporter pun tak diijinkan untuk mewawancarai tahanan, begitu pun untuk melakukan wawancara diam-diam dengan penjaga atau petugas lain dalam tahanan.

Dalam kasus Ismail, permintaan untuk melihat rekaman medis, rekaman kejadian yang pernah ia alami, video dan dokumen investigasi lain ditolak. Pertanyaan tentang kejadian dan tindakan yang dialami tahanan dilarang oleh petugas militer dengan penolakan nyata.

“Benar-benar sampah dan tidak masuk akal,” ujar Rear Administrasi, David Thomas, komandan kamp detensi Guantanam kepada Monitor

Menurut cerita pihak militer, tindak kekerasan terhadap Ismail oleh beberapa penjaga dilakukan di lapangan rekreasi luar. Juru bicara tersebut mengatakan para penjaga berpakaian lengkap tersebut menjaga sikap alami pasif dan menggunakan kekerasan minimum bila diperlukan. “Dan tidak ada penjaga yang mengencingi Yasin,” ujarnya

Namun bagi Remes, pengacara Ismail, pengakuan petugas yang menunjukkan bahwa semua sempurna justru menunjukkan fakta sebenarnya.  “Saya kira militer telah membutktikan dirinya tidak mampu membuat kebijakan sendiri,” ujarnya./itz di ambil dari republika




    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: