Alkisah, sahabat Anas pernah membagikan daging kambing yang sudah dimasak kepada seorang temannya. Sang teman tidak langsung menyantapnya, tapi memberikannya kepada orang lain yang dianggap lebih membutuhkan. Orang yang disebut terakhir ini pun memberikan lagi kepada tetangganya. Begitu seterusnya, hingga daging itu berputar sampai sepuluh rumah.

Ini hanyalah contoh kecil dari kisah kedermawanan dan kemurahan hati sahabat-sahabat Nabi. Nabi sendiri, sejak kepindahannya ke Madinah, seperti dituturkan Aisyah, istrinya, tak pernah makan kenyang tiga hari berturut-turut hingga akhir hayatnya. Ini bukan karena Nabi saw miskin, tetapi semata-mata lebih mendahulukan kepentingan umat daripada kepentingan dirinya dan keluarganya. (H.R. Baihaqi). Continue Reading »

Sejak kapan peradaban manusia mengenal restoran? Geografer Muslim, Al-Muqaddasi, menyatakan, pertama kali restoran atau rumah makan muncul di dunia Islam pada abad ke-10 M. Penjelajah Muslim kelahiran Yerusalem itu mengungkapkan, pada masa itu telah muncul restoran yang menyediakan aneka jenis hidangan.

‘’ Di restoran seseorang dapat membeli semua jenis hidangan yang telah disediakan, ungkap Al-Muqaddasi. Restoran yang tersebar di Spanyol Islam menawarkan tiga menu hidangan utama. Yakni sup, menu utama, dan pencuci mulut. Restoran kemudian berkembang di peradaban Cina mulai abad ke-11 M. Continue Reading »

Jabatan Amir Cordoba diemban Abdurrahman III saat menginjak usia 22 tahun. Dia adalah cucu Amir Cordoba sebelumnya yakni Abdullah bin Muhammad. Meski begitu, dia sangat berbeda dari sang kakek. Jika Abdullah bin Muhammad tercatat dalam sejarah sebagai penguasa Andalusia yang paling lemah, Abdurrahman III justru dikenang sebagai penguasa terbesar dan paling sukses di Andalusia.

Abdurrahman terlahir di Cordoba pada 7 Januari 891 itu mengemban amanah sebagai Amir Cordoba selama 17 tahun (912 M – 929 M). Selama berkuasa sebagai Amir, Abdurrahman III yang bergelar An-Nasir mampu mengembalikan kekuasaan Islam di Iberia yang sempat pudar di era kekuasaan sang kakek.

Tak cuma itu, Abdurrahman III bahkan sanggup melebarkan sayap kekuasaannya hingga ke wilayah Afrika Utara. Bermodalkan pasukan tentara yang tangguh di darat dan kuat di laut, pada 16 Januari 929M Abdurrahman III memproklamirkan berdirinya Kekhalifihan Islam di Andalusia alias Spanyol. Ia pun mengangkat dirinya sebagai khalifah pertama Dinasti Umayyah pertama yang berpusat di Cordoba. Dengan posisi itu, Abdurrahman III bukan lagi perpanjangan tangan Dinasti Abbasiyah di Baghdad – melainkan sejajar dengan Khalifah Dinasti Fatimiyah di Afrika dan Bani Abbasiyah di Baghdad. Continue Reading »

Salah satu penemuan penting yang dicapai umat Islam di era keemasan adalah sabun. Sejak abad ke-7 M, umat Muslim telah mengembangkan sebuah gaya hidup higienis yang mutakhir.

Menurut Ahmad Y Al-Hassan dalam bukunya berjudul, Technology Transfer in the Chemical Industries, kota-kota Islam seperti Nablus (Palestina), Kufah (Irak), dan Basrah (Irak) telah menjadi sentra industri sabun.

“Sabun yang kita kenal hari ini adalah warisan dari peradaban Islam,”  papar Al-Hassan. Menurut Al-Hassan, sabun yang terbuat dari minyak sayuran, seperti minyak zaitun serta minyak aroma, pertama kali diproduksi para kimiawan Muslim di era kekhalifahan. Salah seorang sarjana Muslim yang telah mampu menciptakan formula sabun adalah Al-Razi–kimiawan legendaris dari Persia. Continue Reading »

Peradaban Islam menyumbangkan sejumlah peta yang dijadikan panduan para navigator. Salah satu peta yang digunakan pelaut Spanyol, Christopher Columbus untuk mengarungi Samudera Atlantik adalah peta Al-Idrisi

Peradaban Islam di era kegemilangan selama beberapa abad tampil sebagai super power dunia. Pada era kekhalifahan, dunia Islam menguasai berbagai sektor seperti, ilmu pengetahuan, politik, militer, ekonomi, serta perdagangan. Tak heran jika dunia Islam mampu menguasai wilayah yang terbentang begitu luas, meliputi benua Asia, Afrika, dan Eropa.

Kekhalifahan Islam dipandang telah memberi kontribusi yang signifikan dalam terjadinya proses globalisasi di era itu. Dengan ilmu pengetahuan serta kekuatan ekonomi yang dikuasainya, dunia Islam mampu membebaskan begitu banyak wilayah dari keterisolasian. Para penjelajah, pelaut, sarjana, saudagar, serta pelancong Muslim telah berjasa menghubungkan dan membuka wilayah yang terisolasi itu dengan dunia Islam. Continue Reading »

Parasut
Cikal bakal parasut ditemukan ilmuwan Muslim serbabisa Abbas Ibnu Firnas pada abad ke-9M. John H Lienhard dalam bukunya berjudul The Engines of Our Ingenuity menggambarkan uji coba terbang pertama dalam sejarah peradaban manusia yang terjadi pada tahun 852 M. ”Seorang lelaki bernama Armen Firman (Ibnu Firnas) memutuskan untuk terjun dari sebuah menara Masjid Agung Cordova,” tutur Lienhard.

Dengan satu set sayap yang terbuat dari kain yang dikeraskan dengan kayu, Ibnu Firnas loncat dari ketinggian. Pada uji coba pertama itu, dia tentunya tak bisa terbang. Namun, peralatan yang digunakannya mampu memperlambat jatuhnya Ibnu Firnas. Ia mendarat dengan selamat dengan luka-luka kecil. Inilah awal mula parasut.

* Penerbangan Terkendali
Sejarah juga mencatat Abbas Ibnu Firnas sebagai orang pertama di dunia yang melakukan uji coba penerbangan terkendali. Dengan semacam alat kendali terbang yang digunakan pada dua set sayap, Ibnu Firnas bisa mengontrol serta mengatur ketinggian terbangnya. Selain itu, dia juga bisa mengubah arah terbang. Hal itu dibuktikan dengan keberhasilannya kembali ke arah di mana ia meluncur. Meski begitu, dia mengalami luka-luka saat mendarat. Continue Reading »

Klaim peradaban Barat yang selama beberapa abad mengaku sebagai perintis di bidang kedirgantaraan akhirnya terpatahkan. Sekitar 600 tahun sebelum Roger Bacon dan Leonardo Da Vinci mencoba untuk terbang menjelajahi angkasa, ilmuwan Muslim di abad ke-9 M telah berhasil melakukan uji coba penerbangan dengan teknologi yang dikembangkannya.

Para ahli penerbangan dan sejarah Barat mengakui pencapaian peradaban Islam dalam dunia penerbangan yang sebelumnya tak pernah terpikirkan itu. ”Ibnu Firnas adalah manusia pertama dalam sejarah yang melakukan percobaan ilmiah untuk melakukan penerbangan,” ujar Sejarawan Barat, Philip K Hitti, dalam bukunya yang bertajuk History of the Arabs.

Pencapaian yang berhasil ditorehkan ilmuwan Muslim di era kejayaan Kekhalifahan Islam di Andalusia itu juga mendapat pengakuan dari pakar kedirgantaraan Amerika Serikat (AS), Richard P Hallion. Dalam sebuah kesempatan, Hallion menyatakan, sejarah penerbangan dunia tak boleh melupakan pencapaian Ibnu Firnas. Continue Reading »

Melihat matahari dan merasakan kehangatan sinarnya mungkin bagi sebagian orang adalah hal biasa. Namun bagi Yasin Ismail, Tahanan Guantanamo No 522, itu adalah hal yang paling ia inginkan.

“Yasin sudah tidak  keluar melihat udara segar selama sebulan,” ujar David Remes, direktur legal grup hak asasi manusia Appeal for Justice sekaligus pengacaranya seperti yang dikutip oleh Chritian Science Monitor (23/02)

Yasin, pria asal Yaman itu terkunci dari peradaban luar selama berminggu-minggu dan menghabiskan 22 jam sehari sendiri dalam sel tanpa jendela di fasilitas keamanan-tinggi penjara yang juga  dikenal dengan sebutan Gitmo.

Bulan Januari tangggal 7, Yasin yang putus asa meminta untuk dipindahkan dari ruangnya ke ruang lain yang dimasuki cahaya matahari. Namun  sang penjaga balik berkata, “Kamu tidak diijinkan melihat matahari,”

Permintaan melihat matahari tidak hanya ditolak sederhana, para tahanan pun diberi hukuman dan tindak kekerasan gara-gara melontarkan permintaan tersebut.

Ketika penjaga menolak memindahkan Yasin ke sell memiliki akses sinar matahari, Yasin dan penjaga sempat berdebat sesaat dan beberapa detik Yasin memindahkan sepatunya dan melemparnya ke dinding pembatas. Penjaga lantas menuduh Yasin menyerang mereka dan meninggalkannya dalam ruang tertutup rapat tanpa jendela dari siang hingga malam.

Ia terbangun karena suara gaduh peralatan satu tim penjaga yang memasuki sel, menggguncangnya dan memukulnya secara brutal.  Satu penjaga bahkan mengencingi kepala Yasin.

Mereka mplaster hidung dan mulut saya hingga, membuat saya melihat kematian baru kemudian membiarkan saya bernafas kembali,” ujar Yasin menuturkan kepada pengacaranya.

Mereka memukul tulang rusuk saya hingga saya dapat rasakan otak saya melayang,”

Yasin adalah satu dari 242 tahanan yang masih dipegang oleh AS dalam kam detensi tersohor yang dikutuk secara global tersebut.

Kasus Yasin merupakan salah satu sorotan dari karakter brutal, keji, penuh hukuman dalam interaksi sehari-hari antara penjaga dan tahanan di dalam kamp penjara kontroversial tersebut.

Banyak petugas hukum dan kelompok hak asasi manusia berbicara menentang kondisi kian memburuk perlakuan terhadap tahanan, seperti halnya Yasin yang tak pernah melihat matahari.

Reporter pun tak diijinkan untuk mewawancarai tahanan, begitu pun untuk melakukan wawancara diam-diam dengan penjaga atau petugas lain dalam tahanan.

Dalam kasus Ismail, permintaan untuk melihat rekaman medis, rekaman kejadian yang pernah ia alami, video dan dokumen investigasi lain ditolak. Pertanyaan tentang kejadian dan tindakan yang dialami tahanan dilarang oleh petugas militer dengan penolakan nyata.

“Benar-benar sampah dan tidak masuk akal,” ujar Rear Administrasi, David Thomas, komandan kamp detensi Guantanam kepada Monitor

Menurut cerita pihak militer, tindak kekerasan terhadap Ismail oleh beberapa penjaga dilakukan di lapangan rekreasi luar. Juru bicara tersebut mengatakan para penjaga berpakaian lengkap tersebut menjaga sikap alami pasif dan menggunakan kekerasan minimum bila diperlukan. “Dan tidak ada penjaga yang mengencingi Yasin,” ujarnya

Namun bagi Remes, pengacara Ismail, pengakuan petugas yang menunjukkan bahwa semua sempurna justru menunjukkan fakta sebenarnya.  “Saya kira militer telah membutktikan dirinya tidak mampu membuat kebijakan sendiri,” ujarnya./itz di ambil dari republika

Tata Cara Pemakaman

Setelah jenazah dishalatkan, biasanya dilakukan pelepasan jenazah dari rumah atau dari tempat tertentu. Pada saat pelepasan itu, salahseorang anggota keluarga menyampaikan beberapa hal, antara lain:
1. Menyampaikan permohonan maaf al-marhum atau al-marhumah terhadap seluruh kesalahan dan kekhilafan yang pernah dilakukan semasa hidupnya.
2. Menyampaikan kepada masyarakat, jika yang bersangkutan semasa hidupnya pernah meninggalkan utang atau janji kepada seseorang, agar segera disampaikan kepada pihak keluarga. Utang piutang seseorang yang tak terlunasi akan membuat masalah bagi bagi al-marhum/al-marhumah. Pihak keluarga akan berusaha melulunasi hutang itu sebelum harta kekayaannya dibagi oleh ahli warisnya.

Setelah segalanya selesai, maka proses pemakaman dilakukan. Tata cara pemakaman tersebut sebagai berikut:
1. Jenazah dikuburkan di lokasi khusus pemakaman orang Islam. Tidak dibenarkan mayat muslim dikuburkan di selah-selah kuburan non Islam, kecuali dalam keadaan terpaksa, misalnya tulang belulang korban kecelakaan yang sulit teridentifikasi.
2. Kuburan digali sampai ke kedalaman lebih aman dari:
a. Bau busuk
b. Galian binatang buas
c. Hanyut terbawa banjir
d. Dan lain-lain yang bisa mengganggu keutuhan mayat karena rendahnya kualitas kuburan.
3. Galian kuburan menghadapkan mayat ke arah kiblat.
4. Kuburan dibuatkan liang lahat, semacam goa kecil memanjang disudut arah kiblat, di dalam kuburan, sepanjang itu dimungkinkan. Mayat yang sedang hamil disesuaikan ukurannya sehingga mayat tidak kesempitan.
5. Tidak dibenarkan ada benda-benda lain selain kain kafan yang menyertai mayat. Potongan-potongan papan yang biasa diginakan menyanggah tanah galian dari tubuh mayat biasanya dianggap pengecualian.
6. Ketika mayat dimasukkan ke dalam kuburan, diajurkan bagian kepalanya terlebih dahulu dan dalam keadaan poisi kepala lebih rendah.
7. Ketika mayat sudah terbaring di liang lahat, pengikat kain kafan dibuka, tanpa memperlihatkan aurat mayat.
8. Ketika memasukkan mayat ke liang lahat, Rasulullah Saw menganjurkan kepada orang yang menurunkannya ke liang lahat membaca:
Bismillahi wa ‘ala millati Rasulillah Saw.
Artinya: “Dengan nama Allah dan dengan mengikuti agama Rasulullah Saw”.
9. Sebaiknya dan diutamakan yang memasukkah mayat ke dalam kubur ialah muhrimnya (anggota keluarga terdekat), kalau mayat itu perempuan.
10. Tanah timbunan tidak lebih dari tanah galian yang telah dikeluarkan, sehingga kuburan menjadi rata dengan tanah.
11. Dianjurkan memberikan siraman air kepada kuburan.
12. Jika pemakaman sudah rampung, dianjurkan Rasulullah kepada para pengantar memohonkan ampun dan mendoakan al-marhum/almarhumah, karena ketika itu ia sedang ditanya oleh Malaikat.
13. Jika ternyata ditemukan ada bagian anggota badan mayat terpisah, lalu ditemukan kemudian, maka bagian-bagian itu dimandikan dan dishalatkan lalu dikuburkan di sekitar anggota badan lainnya.
14. Boleh menangis, tetapi tidak dibenarkan meratap di atas kuburan. Nabi bersabda: Almarhum atau almarhumah disiksa dikuburan karena ratapan keluarganya terhadapnya”. (Hadis riwayat Bukhari-Muslim).
15. Dianjurkan melakukan ta’ziyah untuk membesarkan hati dan semangat keluarga yang ditinggal, sambil mendoakan al-marhum atau al-marhumah. Tidak diajurkan untuk menjamu makanan atau minuman kepada para tamu kalau itu memberatkan keluarga, tetapi kalau tidak, Rasulullah Saw pernah menganjurkan untuk menjamu makanan kepada pelayat.

Mengkafani Mayat

Mengkafani mayat juga bagian dari yang harus dilakukan bagi pengurusan jenazah. Setelah dimandikan, mayat dipindahkan ke tempat lain yang telah ditentukan dengan posisi kepala lebih tinggi dan dalam keadaan auratnya tertutup. Setelah itu, mayat akan dibungkus kain kafan dengan cara sebagai berikut:

1. Kain kafan berwarna putih, tersusun tiga lapis, sesuai dengan ukuran mayat.
2. Bagian kepala dan kaki dilebihkan untuk memudahkan pengikatan kain kafan.
3. Disiapkan pengikat, sebaiknya dari bahan kain kafan itu sendiri, untuk mengikat bagian atas kepala, leher, dada, perut, punggung, paha, kaki, dan bagian bawah dari kaki.
4. Kain kapas dapat digunakan untuk menutupi kucuran darah di bagian luka atau di bagian berongga lainnya, jika tetap mengeluarkan cairan.
5. Diusahakan ikatan mempunyai simpul guna memudahkan pembukaannya nanti di liang lahat. Mayat di liang lahat tidak boleh dalam keadaan terikat, namun tetap dalam keadaan aurat tertutup dan terbungkus.
6. Setelah kain kafan dibentangkan dengan posisi mayat terlentang, kedua kakinya dirapatkan, tangannya dilipat menyerupai orang shalat, tangan kiri di dalam dan tangan kanan di bagian luar. Mayat terbujur, bagian kepala di arah kiblat.
7. Bekas pakaian sesudah mandi dibuka perlahan-lahan tanpa memperlihatkan aurat mayat. Pada waktu membungkusnya, diperlukan kain lebar yang akan menutupi anggota badan mayat. Tangan bekerja di bawah kain tanpa melihat aurat mayat.
8. Setelah mayat terbentang di atas kain kafan, ujung sebelah kiri kain kafan diangkat menutupi badan mayat, kemudian ujung kanan sebelah kanan diangkat menutupi badan mayat dan berada pada pusisi di atas. Setelah itu, pertemuan ujung kain memanjang dari atas kepala sampai lurus ke bawah, ke bagian kaki, kemudian digulung dengan gulungan halus dan rapi dari kanan ke kiri.
9. Setelah itu, pengikat yang memang sudah tersedia di bawah kain kafan, diikatkan dengan pelan-pelan dan tidak terlalu kecang tetapi tidak juga terlalu longgar yang memungkinkan pertemuan kain kafan terbuka.
10. Pada waktu membungkus mayat, diusahakan menyebut kalimat tahlil dan istighfar, yakni: Lailaha illallah, Muhammadur Rasulullah. Astaghfirullahal ‘azhim, astaghfirullaha wa atubu ilaihi.
Artinya: Tiada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah Rasul-Nya, Aku memohon pengampunan Allah Yang Maha Besar, aku mohon pengampunan Allah dan aku bertobat kepadanya.
11. Setelah diikat, mayat ditutupi dengan penutup bagian luar yang terdiri atas kain yang lebih lebar, sehingga tidak kelihatan bagian lekuk-lekuk mayat.

Shalat Janazah

Setelah mayat dibungkus dengan rapi, maka sebaiknya segera dilaksanakan shalat jenazah. Hal-hal yang berkaitan dengan shalat jenazah yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut:

1. Diusahakan sebanyak mungkin orang dapat melakukan shalat jenazah secara berjamaah. Jika terpaksa, dalam keadaan tanpa wudlu pun diajurkan ikut shalat itu.
2. Jika ruang masih lebar, maka shaf (barisan) shalat disusun memanjang ke belakang, bukan memanjang ke samping.
3. Mayat diletakkan di tempat yang bersih dan terhormat, dan boleh dishalatkan berkali-kali.
4. Shalat jenazah dipimpin seorang imam yang alim.
5. Imam berdiri di bagian tengah (pusat) jika jenazah perempuan, dan imam berdiri di bagian kepala menurut imam Syafi’, dan menurut Imam Abu Hanifah imam berdiri di bagian dada jenazah, baik jenazah laki-laki maupun perempuan.
6. Jika mayat lebih dari seorang, maka dapat dishalatkan sekaligus.
7. Mayat dishalatkan di tempat yang bersih dalam posisi mayat terbentang di depan imam dan jamaah.
8. Mayat yang tidak sempat dishalatkan, dapat dishalatkan di atas kuburan, sebagaimana disebutkan dalam beberapa hadis, sepanjang mayat belum lewat sebulan, dan atau dapat juga dishalatghaibkan.

Shalat janazah yang lebih masyhur ialah terdiri atas empat takbir tanpa ruku’ dan sujud, meskipun pernah Rasulullah dan kalangan sahabat shalat janazah lima, enam, dan tujuh rakaat. Tata cara shalat janazah sebagai berikut:

1. Takbir pertama
Diawali dengan membaca niat shalat jenazah, misalnya:
Ushalliy ‘ala hadza/hadzihi al-mayyit arba’ah takbiran lillahi ta’ala.
Catatan:
Jika mayat laki-laki dibaca hadza dan jika mayat perempuan dibaca hazdihi dan jika mayatnya tidak jelas, karena mempunyai dua alat kelamin atau telah melakukan operasi plastik, maka yang bersangkutan mengikuti unsur jenis kelamin yang lebih dominan secara alami semasa ia hidup.
Setelah itu membaca takbir pertama, langsung membaca surah al-Fatihah, tanpa membaca doa iftitah dan surah lain sesudah al-fatihah.

2. Takbir kedua
Sesudah membaca surah Al-Fatihah, tangan diangkat untuk takbir kedua, Kemudian membaca shalawat Nabi, yang redaksinya antara lain:
Allahumma shalli wa sallim ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi wa ashhabihi wa sallam.

3. Takbir Ketiga
Setelah membaca shalawat kepada Nabi, tangan diangkat untuk takbir ke tiga. Setelah itu dibaca doa untuk al-marhum atau al-marhumah, yang redaksi doanya antara lain sebagai berikut:

Allahumma ighfir li hayyina wa mayyitina, wa syahidina wa ghaibina, wa shaghirina wa kabirina, wa dzakarina wa untsana, innaka ta’lamu munqalabana wa matswana, innaka ‘ala kulli syai’in qadir. Allahumma man ahyaitahu minna fa ahyihi ‘alal islam, wa man tawaffaitahu minna fa tawaffahu ‘alal iman. Allahumma innahu ‘abduka wa ibnu ummatika, nazala bika wa anta khairu munzalin bi hi, wa la na’lamu illa khairan. Allahumma in kana muhsinan fa jizhu bi ihsanihi, wa in kana musi’an fa tajawaz ‘anhu. Allahumma la tahrimna ajrahu wa la taftinna ba’dahu.

Artinya: “ Ya Allah, ampunilah baik semasih kami hidup atau sudah meninggal, baik dosa yang tampak maupun yang tersembuny, baik dosa di masa kecil kami maupun setelah dewasa, baik kami sebagai perempuan atau laki-laki. Engkaulah Zat Yang Maha Tahu apa yang masih sedang berproses maupun yang sudah permanent di dalam diri kami, Engkaulah Yang Maha Kuasa terhadap segala sesuatu. Ya Allah, terhadap hambamu yang masih hidup, berikanlah kehidupan secara islami, dan terhadap hambamu yang sudah Engkau panggil, panggillah dalam keadaan beriman. Ya Allah, sesungguhnya dia adalah hamba-Mu dan anak dari hambamu, dia menuju Engkau dan Engkaulah tempat tujuan yang bterbaik. Kami tiada mengetahuinya kecuali kebaikannya. Ya Allah, jika hambamu ini tergolong baik, balaslah dengan kebaikan; jika ia pernah berbuat salah terimalah ia di sisih-Mu. Ya Allah, kiranya Engkau Tidak menyia-nyiakan kebajikannya dan tidak pula menimbulkan fitnah diantara kami sesudah kepergiannya”.

4. Takbir Keempat
Setelah membaca doa-doa untuk jenazah, maka tangan diangkat untuk takbir yang keempat, kemudian membaca salam pertama sambil menurunkan tangan kanan dan menoleh ke sebelah kanan, sambil membaca :
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakatuh. Kemudian menoleh ke kiri sambil menurunkan tangan kiri dan membaca Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakatuh.
Setelah salam, dianjurkan berdoa, antara lain dengan redaksi doa yang sering dibaca nabi di depan janazah:
Allahumma ighfir lahu (ha) warhamhu (ha) wa ‘afihi (ha) wa’fu ‘anhu (ha), wakrim nuzulahu (ha) wa ausi’ madkhalahu (ha) wa aghsilhu (ha) bil ma’i watstsalji wal bardi wa naqqihi (ha) minal khathaya kama naqqaitats tsaubal abyadh minad danasi wa abdilhu (ha) daran khairan min darihi (ha) wa ahlan khairan min ahlihi (ha) wa zaujan khairan min zaujihi (ha) wa a’idzhu (ha) min ‘adzabil qabri wa min ‘adzabin nar
Catatan:
Jika mayat laki-laki dibaca hadza dan jika mayat perempuan dibaca hazdihi dan jika mayatnya tidak jelas, karena mempunyai dua alat kelamin atau telah melakukan operasi plastic, maka orang yang bersangkutan mengikuti unsure jenis kelamin yang lebih dominant secara natural ketika ia hidup.

Artinya: “Ya Allah, ampuni dan rahmatilah dia dan maafkanlah seluruh dosa-dosanya, muliakanlah kepergiannya, lapangkanlah tempat tinggalnya, bersihkanlah dengan air, salju, atau es, dan bersihkanlah dari segala dosa sebagaimana bersihnya pakaian putih dari kotoran, berikanlah tempat lebih baik dari tempatnya semula, dalam suasana keluarga yang lebih baik dari semula, suasana pasangan yang lebih baik dari sebelumnya, dan selamatkanlah dia dari siksaan kubur”.(di ambil dari republika)

bersambung ke bagian 4

Next Page »



Follow

Get every new post delivered to your Inbox.